Haruskah Cinta

Haruskah cintaku terhalang olehnya

Masih segar ingatanku, menatap karpet putih penuh awan di atas negeri gunung tertinggi.

Perlahan mulai merekah sang mentari di ufuk timur, tapi tak jua kau berada di sisiku.

Kemana kamu?

Ku cari dirimu di antara bukit kehijauan
Menelusuri setiap jejakmu di antara warna warni telaga
Mengintip di balik reruntuhan puing puing candi berharap kau ada di sini.
Atau bahkan membayangkanmu bersenda gurau di warung atau sekedar membeli purwaceng hangat

Kabut lembut mulai turun, memenuhi lembah rumahku, tapi tidak dengan hatiku, tidak ada dirimu.

Semua diam membisu, seakan ibu pertiwi membisikkan kata, sejenak saja nak, biarkan bumi bernafas.

Kamu tau, aku menatap gelembung di kawah sikidang
Seakan membawa rekahan kenangan masa keramaian di negeri ini.

Tenang kawan, aku akan menunggumu di sini
Untuk tersenyum kembali bersama pawai anak-anak rambut gimbal
Mengenakan selendang saat masuk ke pelataran candi
Menatap mentari pertama di puncak sikunir
Berlari di antara telaga warna dan bukit ratapan angin.

Ku tau, cintaku tak kan terhalang oleh nya
Tetap tenang dan tinggallah di rumah
Biarkanlah semua ini berlalu sekejap saja.

Biarkan kurawat negeri para dewa, bersiap menantikan kehadiranmu di sini lagi suatu hari kelak.

Dieng melawan korona

*puisi ini didedikasikan untuk perjuangan rekan-rekan di Dieng melawan virus korona 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.